| Panglima Perlawanan: Potret Abdul Qahhar Mudzakkar (Kahar Muzakkar). Seorang perwira revolusioner yang jejak sejarahnya membentang dari Yogyakarta hingga belantara sungai Lasolo, Sulawesi Tenggara. |
Oleh: Redaksi Indonesia Timur Post
WATAMPONE – Dalam buku teks sejarah nasional, nama Abdul Qahhar Mudzakkar sering kali diringkas dalam satu label kaku: Pemberontak DI/TII. Namun, jika Anda melangkahkan kaki ke warung-warung kopi di Palopo, menyusuri pesisir Bone, hingga masuk ke pelosok Enrekang, narasi yang terdengar justru jauh berbeda. Di sana, sosoknya tidak diingat sebagai musuh negara, melainkan sebagai simbol harga diri—seorang Manurung yang berdiri tegak melawan ketidakadilan pusat.
Luka Pasca-Revolusi: Awal Mula Perlawanan
Mengapa seorang perwira kebanggaan yang pernah mengawal Bung Karno di Yogyakarta ini memilih masuk hutan pada 1950-an? Jawabannya bukan sekadar ambisi kekuasaan. Kahar adalah suara dari ribuan pemuda Sulawesi yang merasa dikhianati setelah kemerdekaan diraih.
Kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi (RERA) militer kala itu dianggap membuang para pejuang lokal yang telah bertaruh nyawa. Kahar menuntut agar pasukannya, Guerilla Seberang (KGSS), diakomodasi ke dalam angkatan perang resmi. Ketika Jakarta menutup pintu, Kahar memilih jalan sunyi: Mappalili ke hutan demi martabat kawan-kawannya.
"Kahar adalah Kita": Memori Kolektif di Luwu dan Bone
Di tanah Luwu, Kahar dipandang sebagai sosok yang religius sekaligus nasionalis daerah. Ia bukan hanya mengangkat senjata, tapi juga membangun tatanan sosial.
"Beliau mengajarkan kami untuk tidak hanya tunduk pada kekuasaan, tapi tunduk pada Tuhan dan kebenaran," kenang salah satu tetua di Suli, Luwu.
Warisan yang paling membekas adalah ketegasannya dalam menjaga moralitas. Di bawah kepemimpinannya, wilayah gerilya Kahar dikenal sangat disiplin. Pencurian dihukum berat, dan ibadah menjadi napas utama perjuangan. Hal inilah yang membuat masyarakat lokal merasa terlindungi ketimbang merasa terintimidasi.
Antara Mitos dan Fakta Kematian
Hingga hari ini, kematian Kahar Muzakkar pada 3 Februari 1965 di pinggir Sungai Lasolo masih diselimuti tabir misteri. Sebagian masyarakat di Bone dan Luwu percaya bahwa Sang Panglima tidak pernah benar-benar tewas oleh peluru militer. Mitos tentang "moksa" atau menghilangnya Kahar menjadi bukti betapa besarnya harapan masyarakat agar sosok pembela mereka tetap ada.
Menatap Masa Depan: Belajar dari Sejarah
Menghargai sejarah Kahar Muzakkar di Sulawesi hari ini bukan berarti mendukung pemberontakan terhadap NKRI. Namun, ini adalah pengakuan atas luka sejarah yang pernah ada. Nama Kahar tetap harum karena ia adalah simbol perlawanan terhadap Sentralisme Jawa yang saat itu dianggap abai terhadap potensi dan jasa orang-orang Timur.
Bagi generasi muda Sulawesi dan Papua, jejak Kahar adalah pengingat: bahwa pembangunan di Indonesia tidak boleh hanya berpusat di satu titik. Keadilan bagi daerah adalah syarat mutlak bagi keutuhan bangsa.
Sultra : 26 Maret 20026
Catatan Redaksi:
Apakah menurut Anda narasi sejarah Kahar Muzakkar perlu direvisi dalam buku sekolah kita? Sampaikan pendapat kritis Anda di kolom komentar di bawah ini.
#IndonesiaTimurPost #SejarahSulawesi #KaharMuzakkar #LuwuRaya #Bone #JejakTimur
